Akhlaq Mulia

Posted on April 28, 2011 by ابو ملك انس No Comments

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada pembahasan kali ini, akan kami ulas sebuah tema yang berkisar tentang kemuliaan akhlaq dan budi pekerti yang luhur.

Pengertian Akhlaq

Al-Khuluq (bentuk mufrad/tunggal dari kata akhlaq) berarti perangai atau kelakuan, yakni sebagaimana yang diungkapkan oleh para ulama, “Gambaran batin seseorang”.  Karena pada dasarnya manusia itu mempunyai dua gambaran :

1. Gambaran dzhahir (luar): Yaitu bentuk penciptaan yang telah Allah Ta’ala jadikan padanya sebuah tubuh. Dan gambaran zhahir tersebut di antaranya ada yang indah dan bagus, ada yang jelek dan buruk, dan ada pula yang berada pada pertengahan di antara keduanya atau biasa-biasa saja.

2. Gambaran batin (dalam): Yaitu suatu keadaan yang melekat kokoh dalam jiwa, yang keluar darinya perbuatan-perbuatan, baik yang terpuji maupun yang buruk, (yang dapat dilakukan) tanpa berfikir atau kerja otak.

Dan gambaran (ke-2) ini juga ada yang baik jika memang keluar dari akhlaq yang baik, dan ada pula yang buruk jika keluar dari akhlaq yang buruk. Inilah yang kemudian disebut dengan nama “khuluq” atau akhlaq. Jadi, khuluq atau akhlaq adalah gambaran batin yang telah ditetapkan pada seseorang.

Dan wajib bagi setiap muslim untuk berperilaku dengan akhlaq yang mulia. Karena, sesuatu yang berharga dari tiap-tiap benda merupakan sesuatu yang baik dari benda tersebut, dan di antaranya adalah perkataan Rasulullah  kepada Mu’adz bin Jabal ketika Nabi  memerintahkannya untuk mengambil zakat dari penduduk kota Yaman,

وَ إِيَّاكُمْ وَ كَرَا ئِمَ أَمْوَالِهِمْ…

”…dan hati-hatilah dari harta-harta mereka yang berharga…”(HR. Imam Bukhari. no. 1496)

Maka, setiap orang harus berusaha agar hati atau gambaran batinnya menjadi mulia. Sehingga ia mencintai kemuliaan dan keberanian, juga mencintai sifat santun dan kesabaran. Ketika bertemu dengan sesama hendaknya ia menampakkan wajah yang berseri-seri, hati yang lapang, dan jiwa yang tenang. Dan semua sifat-sifat di atas merupakan bagian dari akhlaq yang mulia.

Telah bersabda Nabi Muhammad :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya” (HR. Tirmidzi no. (1162) di Kitaabur Radhaa’, dan dalam riwayatnya ada tambahan: “Dan sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik terhadap kaum wanita/istri kalian”)

Maka, sudah sewajarnya jika pembicaraan akhlaq ini selalu berada di depan mata seorang mukmin. Karena, jika seseorang mengetahui bahwa dia tidak akan bisa menjadi figur yang sempurna keimanannya kecuali dengan memperbaiki budi pekertinya, maka hal ini akan menjadi sebuah pendorong baginya untuk berperilaku dengan budi pekerti yang baik dan sifat-sifat yang tinggi/mulia, serta ia akan meninggalkan perbuatan yang rendah dan hina.

Kesempurnaan Syari’at Islam Ditinjau Dari Sisi Akhlaqnya

Nabi  telah mengabarkan bahwa di antara salah satu tujuan dari diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. Beliau  bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتث لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” (HR. Imam Ahmad di kitab Al-Musnad (2 / 381)

Dan semua ajaran-ajaran generasi dahulu yang telah Allah Ta’ala syari’atkan bagi hamba-hamba-Nya, semuanya juga menganjurkan untuk berperilaku dengan akhlaq yang utama. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa akhlaq yang mulia merupakan sebuah tuntunan yang telah disepakati bersama oleh semua syari’at. Akan tetapi, syari’at Islam yang sempurna ini telah Nabi Muhammad  bawa lagi dengan berbagai kesempurnaan akhlaq yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji.

Kita akan berikan contoh sebuah permasalahan yang ada di semua syari’at, yakni permasalahan Qishash.

Para ulama telah menjelaskan tentang masalah qishash ini, yakni seandainya seseorang melakukan tindakan kriminal terhadap orang lain, apakah harus ditegakkan hukum qishash pada si pelaku ataukah tidak?.

Mereka menyebutkan bahwa hukum qishash dalam syari’at ajaran Yahudi wajib dan harus dilaksanakan, tidak ada pilihan bagi keluarga si korban dalam masalah tersebut. Adapun hukum qishash dalam ajaran Nasrani kebalikan dari ajaran Yahudi, yakni kewajiban memaafkan si pelaku.

Akan tetapi, syari’at kita telah datang secara sempurna dari kedua sisi tersebut, boleh ditegakkan hukum dengan cara di-qishash, boleh juga dengan cara memaafkan si pelaku. Karena dengan melaksanaan hukum qishash terhadap si pelaku yang disebabkan oleh tindakan kriminalnya akan dapat menahan atau mencegah tindak kejahatan yang lainnya. Sedangkan memaafkannya merupakan tindakan baik dan bagus, serta memberikan perbuatan yang ma’ruf terhadap orang yang dimaafkan.

Maka, Alhamdulillah telah datang syari’at kita ini dalam keadaan yang sempurna, dimana Allah Ta’ala telah memberikan dua pilihan kepada orang yang mempunyai hak, yaitu antara memberi maaf jika kondisinya memungkinkan demikian atau mengambil haknya jika kondisinya lebih mendukung untuk dilaksanakannya hal tersebut.

Dan hal ini -tidak diragukan lagi – tentu lebih baik dari syari’at Yahudi yang telah menghilangkan hak keluarga korban untuk memberi maaf pada si pelaku, yang mungkin saja terdapat kemashlahatan di dalamnya. Dan juga, tentu lebih baik dari syari’at Nasrani yang telah menghilangkan hak keluarga korban juga, yang mana wajib atas mereka untuk memberi maaf, padahal mungkin saja ada kemashlahatan dari balasan dan pelaksanaan hukuman qishash tersebut.

Akhlaq Mulia Antara Sifat Alami Dan Usaha

Sebagaimana akhlaq merupakan sebuah tabiat atau ketetapan asli, akhlaq juga bisa diperoleh atau diupayakan dengan jalan berusaha. Maksudnya, bahwa seorang manusia sebagaimana telah ditetapkan padanya akhlaq yang baik dan bagus, sesungguhnya memungkinkan juga baginya untuk berperilaku dengan akhlaq yang baik dengan jalan berusaha dan berupaya untuk membiasakannya.

Untuk itu, Nabi  berkata kepada Asyajj ‘Abdul Qais:

إِنَّ فِيْكَ لَخُلُقَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ : أَلأّنَاةُ وَ الْحُلْمُ

“Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allah Ta’ala sukai; sifat santun dan tidak tergesa-gesa” Ia berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ , أَ هُمَا خُلُقَا نِ تَخَلَّقْتُ بِهِمَا , أَمْ جَبَّلَنِيَ اللهُ عَلَيْهِمَا ؟

Wahai Rasulullah, apakah kedua akhlaq tersebut merupakan hasil usahaku, atau Allah-kah yang telah menetapkan keduanya padaku?” Beliau  menjawab:

بَلْ جَبَّلَكَ اللهُ عَلَيهِمَا

“Allah-lah yang telah mengaruniakan kedua akhlaq itu padamu”. Kemudian ia berkata:

أَلْحَمْدُ لِلّهِ الّذِيْ جَبَّلَنِيَ خُلُقَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ وَ رَسُوْ لُهُ

”Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memberiku dua akhlaq yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya”. (HR. Abu Daud, No (5225) di Kitaabul Adab, dan Ahmad (4 / 206)

Maka, hal ini menunjukan bahwa akhlaq terpuji dan mulia bisa berupa perilaku alami (yakni karunia dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya) dan juga dapat berupa sifat yang dapat diusahakan atau diupayakan. Akan tetapi, tidak diragukan lagi bahwa sifat yang alami tentu lebih baik dari sifat yang diusahakan. Karena akhlaq yang baik jika bersifat alami akan menjadi perangai dan kebiasaan bagi seseorang. Ia tidak membutuhkan sikap berlebih-lebihan dalam membiasakannya. Juga tidak membutuhkan tenaga dan kesulitan dalam menghadirkannya. Akan tetapi, ini adalah karunia dari Allah Ta’ala yang Ia diberikan kepada seorang hamba yang dikehendaki oleh-Nya, barang siapa yang terhalang dari hal ini – yakni terhalang dari akhlaq tersebut secara tabiat alami –, maka sangat mungkin baginya untuk memperolehnya dengan jalan berusaha dan berupaya untuk membiasakannya. Yaitu dengan cara membiasakan dan melakukannya terus-menerus, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti Insya Allahu Ta’ala.

Siapakah Yang Lebih Utama?

Dari sini timbul pertanyaan, “Siapakah yang lebih utama, seseorang yang telah dikaruniakan padanya akhlaq yang terpuji, dan seseorang yang bersungguh-sungguh berusaha dan berupaya agar dapat memperoleh akhlaq tersebut. Manakah di antara keduanya yang lebih tinggi kedudukannya?.”

Maka, Syaikh ‘Utsaimin menjelaskan jawaban dari pertanyaan ini,

Sesungguhnya tidak diragukan lagi, bahwa seseorang yang telah diberikan padanya akhlaq yang baik tentu lebih sempurna jika  dilihat dari segi perilakunya yang memang sudah seperti itu, ataupun dilihat dari sisi telah tertanamnya akhlaq yang baik tersebut pada dirinya. Karena dia tidak akan merasa kepayahan dan kesulitan ketika menghadirkannya, dan juga tidak akan hilang darinya akhlaq tersebut meskipun ia berada dimanapun juga, karena memang akhlaq yang baik telah menjadi perangai dan tabiat aslinya. Kapanpun engkau bertemu dengannya pasti akan mendapatinya baik akhlaqnya, dan dalam keadaan bagaimanapun juga engkau bertatap muka dengannya, pasti akan menemui kebaikan perilakunya. Maka, dari sisi yang satu ini dia tentu lebih sempurna, tanpa diragukan lagi.

Adapun yang satunya lagi, ia telah bersungguh-sungguh berjuang melawan dan melatih dirinya untuk dapat berperilaku baik. Maka, tidak diragukan lagi bahwa dia mendapat pahala dari sisi perjuangannnya dalam melawan dirinya, dan tentu saja dia lebih utama dari sisi yang ini. Akan tetapi bagaimanapun juga, jika ditinjau dari segi kesempurnaan akhlaq, tentu saja dia kurang sempurna dari figur yang pertama.

Adapun jika ada seseorang yang mendapatkan karunia tersebut kedua-keduanya, yaitu secara alami dan setelah berusaha dan berupaya, tentu saja dia akan lebih sempurna lagi. Jadi ringkasnya, seseorang dalam masalah ini terbagi menjadi 4 golongan:

1.         Orang yang terhalang untuk mendapatkan akhlaq yang mulia, baik secara alami maupun dengan jalan usaha dan upaya.

2.         Orang yang terhalang dari hal tersebut secara alami, akan tetapi ia dapat berusaha untuk memilikinya.

3.         Orang yang dikaruniai keduanya.

4.         Orang yang mempunyai akhlaq secara alami, akan tetapi terhalang dari usaha dan upaya untuk memilikinya.

Dan tentu saja tidak diragukan lagi, bahwa golongan yang ke-3 adalah yang paling utama, karena ia menyatukan antara keduanya dalam kemuliaan akhlaqnya.

Penutup

Ibnul Qayyim -rahimahullahu- berpendapat bahwa semua akhlak mulia terlahir dari dua perkara:

1.         Ke-khusyu’-kan, dan

2.         Tingginya kemauan.

Beliau bertutur dalam kitabnya al-Fawaa-id, Hal (210 & 211): Adapun akhlak-akhlak yang mulia, seperti sabar, berani, adil, perangai yang baik, menjaga kesucian dari hal-hal haram dan memelihara diri darinya, dermawan, santun, suka memberi maaf, suka memberi ampun, rela menanggung beban, mengutamakan orang lain, mulianya diri dari segala perilaku yang hina-dina, rendah diri, rela menerima apa adanya, jujur, ikhlas, membalas kebaikan dengan semisalnya atau bahkan melebihkannya, menutup mata dari kesalahan-kesalahan orang lain, tidak menyibukkan diri dari hal yang tidak ada manfaatnya, dan sikap hati yang selalu mengkritisi akhlak yang tercela dan yang semacamnya. Maka, semua akhlak yang terpuji tersebut tumbuh dari ke-kusyu’-kan dan tingginya kemauan. Dan Allah Ta’ala telah mengkhabarkan  tentang bumi ini, bahwasanya dahulunya bumi ini khusyu’ atau tunduk, kemudian ia diguyur oleh air hujan lalu mulailah ia bergerak. Dan bertambahlah keindahan dan keelokannya. Begitulah pula keadaan manusia jika ia mendapat bagian dari taufiq atau hidayah-Nya.

 

Oleh    : Tim Redaksi Buletin Istiqamah Rujukan: Makarimul Akhlaq (Akhlaq-Akhlaq Yang Mulia), karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin.

Post a Comment

Your email is never published or shared. Required fields are marked *